Header Ads


Pemicu CLTS Dalam Rangka Srikandang Siap ODF 2018







Kegatan Pemicu CLTS Dalam Rangka Srikandang Siap ODF 2018 yang dilakukan UPT PUSKESMAS BANGSRI II yang bekerjasama dengan BIDAN DESA dan juga TIM KESEHATAN Desa Srikandang menjadi langkah pasti untuk membentuk dan meningkatkan masyarakat Desa yang sehat.

KESEHATAN sangat diidamkan oleh setiap manusia dengan tidak membedakan status sosial maupun usia. Semua mempunyai keinginan yang sama untuk mempunyai tubuh yang sehat. Tubuh yang sehat selain menguntungkan diri sendiri juga berguna bagi perkembangan kemajuan suatu bangsa dan negara. Dan untuk menuju itu semua perlu peran banyak dari Dinas Kesehatan terkait.

CLTS (Community Lead Total Sanitatian) atau dalam bahasa Indonesia terjemahannya lebih kurang Sanitasi Total Yang Dipimpin Oleh Masyarakat adalah sebuah pendekatan dalam pembangunan sanitasi. Pendekatan pembangunan jamban keluarga dengan metode pendekatan Community Led Total Sanitation (CLTS) ini adalah dengan pola pendekatan pemberdayaan masyarakat untuk menganalisis keadaan dan risiko pencemaran lingkungan yang disebabkan buang air besar di tempat terbuka dan membangun jamban tanpa subsidi dari luar. Program ini disampaikan kepada masyarakat dengan mengacu kepada pemahaman dan bahasa mereka sendiri. Peran perempuan disini penting karena mereka lebih mempunyai rasa malu apabila dibandingkan dengan laki-laki.

Beberapa tahap pada pelaksanaan Community Led Total Sanitation (CLTS) antara lain :
  1. Perkenalan dan Penyampaian Tujuan: Perkenalkan anggota tim fasilitator kepada masyarakat yang hadir, sampaikan maksud dan tujuan bahwa tim ingin melihat kondisi sanitasi. Diawali dengan perkenalan, kemudian tim menjelaskan bahwa kedatangannya bukan untuk memberikan penyuluhan apalagi memberikan bantuan. Tim hanya ingin melihat dan mempelajari bagaimana kehidupan masyarakat, bagaimana masyarakat mendapatkan air bersih, bagaimana masyarakat melakukan kebiasaan buang air besar, dan lain-lain.
  2. Bina suasana: Untuk menghilangkan jarak antara fasilitator dan masyarakat sehingga proses fasilitasi berjalan lancar, sebaiknya dilakukan pencairan suasana. Pada saat itu didapatkanlah istilah setempat untuk tinja.
  3. Analisa partisipatif dan pemicuan: Permulaan proses pemicuan di masyarakat, yang diawali dengan analisis partisipatif misalnya melalui pembuatan peta desa/ dusun/ kampung yang akan menggambarkan wilayah buang air besar (BAB) di sembarang tempat. Proses fasilitasi CLTS di masyarakat pada prinsipnya adalah pemicuan terhadap rasa jijik, rasa malu, rasa takut sakit, rasa berdosa, rasa tangggung jawab yang berkaitan dengan kebiasaan buang air besar (BAB) di sembarang tempat. Untuk membantu proses pemicuan tersebut digunakan komponen PRA (Participatory Rural Appraisal) antara lain dengan Pemetaan,Transek Walk, Alur kontaminasi (oral fecal), serta Simulasi air yang telah terkontaminasi.
  4. Tindak lanjut oleh masyarakat: Jika masyarakat sudah terpicu dan terlihat ingin berubah, maka saat itu juga susun rencana tindak lanjut oleh masyarakat. Semangati masyarakat bahwa mereka dapat 100% terbebas dari kebiasaan buang air besar di sembarang tempat.
  5. Monitoring: Monitoring paling efektif dengan teknik pengawasan di antara mereka sendiri, sehingga monitoring oleh pendamping lebih kepada memberikan semangat dan dorongan kepada masyarakat
Dari semua program yang dilakukan oleh UPT PUSKESMAS BANGSRI II yang bekerjasama dengan BIDAN DESA dan juga TIM KESEHATAN Desa Srikandang ini akan berjalan dan berhasil apabila ada kerjaama dari semua pihak. Yang mana mayarakat harus mendukung agar masyarakat Desa Srikandang Sehat.