Header Ads


Contoh Proposal KKN VOKASI Bina Desa


Judul :
Optimalisasi Potensi Sumber Daya Alam Untuk Meningkatkan Ekonomi Masyarakat
Di Desa Damarwulan Kecamatan Keling Kabupaten Jepara


A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sub sektor perkebunan di Indonesia karena memiliki peluang pasar yang baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebagian besar produksi kopi di Indonesia merupakan komoditas perkebunan yang dijual ke pasar dunia. Menurut International Coffee Organization (ICO) konsumsi kopi meningkat dari tahun ke tahun sehingga peningkatan produksi kopi di Indonesia memiliki peluang besar untuk mengekspor kopi ke negara-negara pengonsumsi kopi utama dunia seperti Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Biji kopi Indonesia juga dipasok ke gerai-gerai penjual kopi (coffee shop) seperti Starbucks dan Quick Check yang berlokasi di Indonesia maupun yang berada di luar negeri.
Kopi merupakan salah satu komoditas unggulan dalam subsektor perkebunan di Indonesia. Berdasarkan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (2011) dari total produksi, sekitar 67% kopi diekspor sedangkan sisanya (33%) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Saat ini Indonesia tergolong negara produsen kopi terbesar keempat setelah Brazil, Vietnam dan Colombia. Usaha ekspor kopi cukup potensial, rata-rata selisih permintaan dengan penawaran 6 tahun terakhir ini sebesar 12,26 %.

Sumber: map.google.com, diakses 28 Mei 2012
Desa Damarwulan merupakan salah satu kawasan sentra pengembangan kopi di Kabupaten Jepara, lahan yang digunakan tanaman Kopi seluas 351 Ha yang menghasilkan kopi sebesar 4 ton/Ha. Potensi perkebunan tersebut dikembangkan melalui usaha pengelohan hasil perkebunan oleh kelompok-kelompok usaha. Sampai sekarang kelompok usaha yang masih eksis adalah Kelompok Belajar Usaha (KBU) Mudi Berkah dan KBU Sido Dadi. KBU  ini lebih berkonsentrasi bidang pengolahan kopi dan jahe, adapun jenis produknya diantara lain Kopi jahe, Kopi susu jahe, Jahe Instan dan Kopi Murni.
Desa Damarwulan terletak di Kecamatan Keling Kabupaten Jepara memiliki luas administrative 1.837.448 hektar yang berbatasan sebelah utara dengan desa Kelet kecamatan Keling, sebelah selatan berbatasan dengan desa Tempur kecamatan Keling, sebelah Timur berbatasan desa Payak dan desa Sirahan kecamatan Keling dan sebelah barat berbatasan dengan desa Kunir Kecamatan Keling. Desa Damarwulan merupakan salah satu desa di lereng Gunung Muria sekaligus salah satu kawasan sentra pengembangan kopi di Kabupaten Jepara.
Jarak antara Desa Damarwulan dengan Ibu kota Kecamatan Keling sejauh 7 Km, dengan Ibukota Kabupaten Jepara sejauh 42 Km. Menurut data monografi, jumlah penduduk Desa Damarwulan sebanyak 7.752 jiwa, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.371 KK. Dari 1102 jiwa penduduk Desa Damarwulan, dengan jumlah laki-laki 3.429 jiwa dan perempuan 4.260 jiwa. Dengan kondisi wilayah desa yang dikelilingi gunung dan bukit yang terletak dengan ketinggian 700 – 1.200 mdpl,

Sumber: data olahan monografi desa damarwulan th. 2011
Dari grafik diatas ladang/tegal menduduki peringkat teratas dalam penggunaan lahan yang ada di desa Damarwulan yaitu sebesar 73,73 %, dan selanjutnya 19,15 % lahan didamarwulan digunakan untuk sawah irigasi teknis. 

Sumber: data olahan monografi desa damarwulan th. 2011

Lahan yang dugunakan tanaman Kopi di desa Damarwulan seluas 351 Ha (42 %) yang menghasilkan kopi sebesar 4 ton/Ha, sedangkan untuk tanaman coklat luasnya 450 Ha (55%), untuk lahan kelapa luasnya 19 Ha (2%) dan menghasilkan 20 ton/Ha, yang terakhir adalah lahan untuk cengkeh yaitu seluas 5 Ha menghasilkan cengkeh 2 ton/Ha. 
Pada umumnya masyarakat desa bermata pencaharian sebagai petani, baik itu di sawah, kebun dan ladang, adapun persebarannya sebagai berikut:

Sumber: data olahan monografi desa damarwulan th. 2011

Bermata pencaharian Sebagai petani 2.920 orang (46.24%), sebagai buruh tani 2.718 orang (43,04%), sebagai pedagang 250 orang (3,96%), Pegawai Negeri Sipil (PNS) 129 orang (2,04%) Peternak 1 orang (0,02% ), Tukang kayu 191 orang (3,02 %) dan lain-lain. 26 orang (0.5%).
Adapun bila dilihat dari pendidikan masyarakat desa Damarwulan kecamatan Keling sebagaimana dalam grafik 4., dimana sebagian besar masyarakatnya berpendidikan tamatan SD/sederajat 53,18 % (1.079 orang), Belum Sekolah 18,63% (378 orang), pernah sekolah tapi tidak tamat 9,46 % (192 orang), tamat SLTP/sederajat 7,74% (157 orang), Tamat SLTA/Sederajat 6,95% (141 orang), Tamatan D-1  0,54% (11 Orang).

Sumber: data olahan monografi desa damarwulan th. 2011

Dengan potensi perkebunan tersebut diatas, di desa Damarwulan kecamatan Keling Kabupaten Jepara dikembangkan usaha pengelohan hasil perkebunan yang sampai sekarang berbentuk kelompok-kelompok usaha. Sampai sekarang kelompok usaha yang masih eksis adalah Kelompok Belajar Usaha (KBU) Mudi Berkah, KBU Sido Dadi. Kelompok Belajar Usaha (KBU) ini lebih berkonsentrasi bidang pengolahan kopi dan jahe, adapun jenis produnya diantara lain : Kopi jahe, Kopi susu jahe, Jahe Instan, Kopi Murni.
a.       Permodalan.
Kompleksitas sistem pengelolaan usaha yang dilakukan oleh ke dua kelompok tersebut, di dalamnya meliputi penyediaan modal, proses produksi, sumber daya manusia,  sistem pemasaran dan manajemen keuangan. Dalam kaitannya dengan industri, modal adalah kemampuan perusahaan yang dinilai dari harta kekayaan  yang dimiliki pengusaha untuk menjalankan usahanya. Karena  itu dapat berupa  modal awal dan modal kerja. Modal awal yang beupa tempat, peralatan dan perlengkapan industri umumnya diusahakan oleh para Kelompok Usaha pengolahan Kopi melalui berbagai cara.  Sebagai tempat usaha para pengusaha biasanya menggunakan rumah tinggalnya sebagai tempat usaha yang tidak terpisah dengan kegiatan rumah tangganya. Sehingga usaha pengolahan kopi ini tergolong dalam usaha kecil.  
Dalam hal dengan permodalan kelompok dan anggotanya masih menggunakan modal sendiri dan belum menyentuh pihak perbankan hal ini disebabkan mereka berasumsi bahwa permodalan dari pihak bank yang menjadi persoalan adalah administratif yang merepotkan.
b.      Bahan Baku
Dalam pengadaan  bahan baku (biji kopi) sebagai modal kerja, para perajin pengolahan kopi tidak ada persoalan karena rata-rata setiap perajin memiliki lahan sendiri. Yang menjadi persoalan adalah kualitas dari biji kopi itu sendiri, sebab para perajin/petani mengambil/memanen biji kopi tidak mengambil biji kopi yang sudah benar-benar matang akan tetapi mereka juga memanen biji kopi yang masih hijau/belum masak. Hal ini dapat mempengaruhi kulaitas produk yang dihasilkan.
c.       Produksi
Jumlah produksi yang dihasilkan oleh para anggota kelompok masih sangat minim hal ini dikarenakan peralatan yang digunakan masih mengunakan peralatan manual/tradisional, selain itu kemampuan produksi di kelompok usaha tersebut masih sangat terbatas, sehingga dibutuhkan peralatan dan pelatihan-pelatihan tentang inovasi produk kopi.
d.      Pemasaran
Produk kopi desa Damarwulan kecamatan keling kabupaten Jepara pemasarannya masih di sekitar wilayah Jepara. Sistem pemasaran yang selama di lakukan oleh oleh anggota kelompok usaha pengolahan kopi dengan cara pemasaran secara langsung yaitu di titipkan ke toko-toko kecil di sekitar kecamatan Keling. Tenaga pemasaran umumnya dipegang  sendiri oleh pemilik usaha yang dibantu oleh anggota keluarganya dengan struktur yang sederhana.
e.       Manajemen Usaha dan administrasi keuangan
Umumnya sistem manajemen dan  administrasi  keuangan masih dilakukan secara sederhana oleh para perajin/anggota kelompok. Dalam hal  ini tidak tampak adanya struktur organisasi yang jelas pada usaha tersebut, Sebab dalam menjalankan usahanya yang menjadi pimpinan adalah pemilik, yang memproduksi kopi juga pemilik, dan yang memasarkan juga pemilik sendiri.
Keberadaan usaha pengolahan kopi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok usaha merupakan usaha sampingan sedangkan profesi utamanya adalah sebagai petani. Lokasi Kelompok usaha pengolahan kopi berada di Desa Damarwulan Kecamatan Keling Kabupaten Jepara. Kelompok Usaha pengolahaan kopi yang sekaligus sebagai petani kopi desa Damarwulan kecamatan Keling di jadikan mitra dalam pengajuan proposal Iptek Bagi Masyarakat, didasarkan pada potensi yang begitu besar perkebenun kopi dan para petani tidak berdaya. Dari potensi tersebut perlu di olah agar petani dapat mempunyai nilai tambah dari hasil perkebunan kopi. Berdasarkan temuan dari Petugas Penyuluhan Lapangan dinas kehutanan dan perkebunan Kabupaten Jepara didapatkan bahwa para petani kopi mengalami kendala dan persoalan-persoalan antara lain:   
Tabel. 1  
Permasalahan Prioritas Kelompok Usaha Pengolahan Kopi Damarwulan

NO
PERMASALAHAN
RINCIAN PERMASALAHAN
1
Permasalahan Permodalan
a.       Belum familier dengan permodalan dari bank.
b.      Sistem dan prosedur kredit dari lembaga keuangan dan non bank rumit, lama selain waktu tunggu pencairan kredit yang tidak pasti,   
c.       Perbankan kurang memahami kriteria usaha kecil dalam menilai kelayakan usaha, sehingga jumlah kredit yang di setujui tidak sesuai dengan kebutuhan.
2
Permasalahan Pemasaran
a.       Kelompok usaha pengolahan kopi tidak memiliki bargaining power dengan pembeli kopi lemah, utamanya dengan penentuan harga,
b.      Informasi untuk memasarkan produk di dalam dan luar negri masih kurang, misalkan produk yang di inginkan, siap membeli, tempat pembelian,atau potensi pasar, tata cara memasarkan produk.
c.       Sarana pemasaran masih menggunakan secara konfensional.
d.      Kemasan produk masih sangat sederhana sehingga kurang menarik bagi konsumen.
3
Permasalahan Manajemen
a.       Pola manajemen yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangan usaha belum dimiliki, antara lain karena pengetahuan dan managerial skill pengusaha kecil relatif rendah. Akibatnya pengusaha kecil belum mampu menyusun strategi bisnis yang tepat,
b.      Pemisahan antara manajemen keuangan perusahaan dengan keluarga belum dilakukan, sehingga pengusaha kecil mengalami kesulitan dalam mengontrol dan mengatur cash flow, serta dalam membuat perencanaan dan laporan keuangan. 
c.       Penanganan usaha masih dilakukan dengan sistem keluarga,
d.      Perencanaan dan pengendalian produksi lemah,
e.       Tidak melakukan promosi yang efektif,  




B.       PERUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang diangkat dalam Program Hibah Bina Desa sebagai berikut :  
1.      Bagaimana mengembangkan sumber daya lokal dan sumber daya lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Damarwulan Kecamatan Keling
2.      Bagaimana meningkatkan Kemampuan usaha dari aspek – aspek aktivitas usaha ?
 
C.      TUJUAN
Adapun Tujuan dari program Hibah Bina Desa di Desa Damarwulan Kecamatan Keling Kabupaten Jepara adalah sebagai berikut:


D.      LUARAN YANG DIHARAPKAN


E.       KEGUNAAN
Kegunaan Program Hibah Bina Desa adalah sebagai berikut :
a.      Mahasiswa
1.      Memperdalam pengertian, penghayatan, dan pengalaman mahasiswa tentang:
·         Kegunaan hasil pendidikan dan penelitian bagi pembangunan pada umumnya dan pembangunan daerah pedesaan pada khususnya.
·         Kesulitan yang dihadapi masyarakat dalam pembangunan serta keseluruhan konteks masalah pembangunan pengembangan daerah.
2.      Mendewasakan alam pikiran mahasiswa dalam setiap penelaahan dan  pemecahan masalah yang ada di masyarakat secara pragmatis ilmiah.
3.      Membentuk sikap dan rasa cinta, kepedulian sosial, dan tanggung jawab mahasiswa terhadap kemajuan masyarakat.
4.      Memberikan ketrampilan kepada mahasiswa untuk melaksanakan program-program pengembangan dan pembangunan sebelum mahasiswa lulus dan akan terjun ke masyarakat.
5.      Membina mahasiswa agar menjadi seorang innovator, motivator, dan  problem solver.

b.      Masyarakat (dan Pemerintah)
1.      Memperoleh bantuan pikiran dan tenaga untuk merencanakan serta melaksanakan program pembangunan di desa Damarwulan Kecamatan Keling Kab. Jepara.
2.      Terpecahkannya persoalan pengelolaan industri rumah tangga yang selama ini di hadapi oleh masyarakat desa Damarwulan Kecamatan Keling Kab. Jepara .
3.      Membentuk kader – kader pembangunan di masyarakat sehingga terjamin kesinambungan pembangunan.
c.       Perguruan tinggi
1.      Perguruan tinggi lebih terarah dalam mengembangkan ilmu dan pengetahuan kepada mahasiswa, dengan adanya umpan balik sebagai hasil integrasi mahasiswa dengan masyarakat. Dengan demikian, kurikulum perguruan tinggi akan dapat disesuaikan dengan tuntutan pembangunan. Tenaga pengajar memperoleh berbagai kasus yang dapat digunakan sebagai contoh dalam proses pendidikan.
2.      Perguruan tinggi dapat menjalin kerjasama dengan instansi pemerintah desa Damarwulan Kecamatan Keling Kab. Jepara sehingga dapat dijadikan mitra dalam pengabdian masyarakat untuk menerapkan penelitian-penelitian yang telah dikembangkan di perguruan tinggi.

F.       GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN

G.       METODE PELAKSANAAN

H.      JADWAL KEGIATAN

I.         RANCANGAN BIAYA

C.      Solusi Yang Ditawarkan
Untuk memberikan solusi atas permasalahan prioritas yang disepakati tim dan mitra, maka perlu di tentukan langkah dan pentahapan, sehingga diketahui akar permasalahan yang dapat ditentukan alternatif solusi, evaluasi dan tindak lanjut untuk mempertahankan dan pengembangan khususnya usaha Kecil (UK) di kelompok usaha pengolahan kopi damarwulan.  
Dari persoalan/permasalahan yang dihadapi oleh mitra, Tim pelaksana kegiatan IbM menawarkan solusi untuk memecahkan permasalahan sebagai berikut:
1.    Metode Pendekatan
Pendekatan yang digunakan untuk mempertahankan dan pengembangan sentra industri Tenun Ikat (Mitra) melalui pemecahkan permasalahan aspek – aspek dalam aktivitas usahanya, melalui 3 (tiga) jenis metode utama dengan pendekatan sebagai berikut:
A.    Konsultasi :
Metode pendekatan konsultasi ditujukan untuk menggali akar permasalahan, menentukan solusi dari aspek pasar dan pemasaran, aspek produksi /operasi, aspek manajemen dan organisasi, aspek SDM, aspek keuangan dan aspek permodalan, usaha (mitra) Sentra Industri Tenun Ikat Troso, sehingga mitra mengetahui, memahami dan dapat menentukan solusi permasalahan. Termasuk dalam tahap ini menggali informasi untuk menentukan jenis media promosi apa yang efektif dan menggali sistem manajemen usaha yang tepat di Sentra Industri Tenun Ikat Troso. Dalam metode konsultasi menggunakan pendekatan Input – Proses – Output. Operasionalisasi pendekatan tersebut dalam proses konsultasi menggunakan metode medis. Metode medis meliputi 5 (lima) tahapan yaitu Analisis, Diagnosis, Prognosis, Treatmen, evaluasi dan tindak lanjut (Sumber : Modul Layanan Pengembangan Bisnis UMKM Sektor Non Agribis - Kementrian  KUKM – RI. 2009).
B.     Pelatihan
Metode pendekatan pelatihan ditujukan agar mitra memiliki keahlian (skill) dari aspek-aspek aktivitas usaha yang belum terpecahkan solusinya pada metode pendekatan konsultasi. Dalam pendekatan ini dilaksanakan setelah ditentukan masalah yang membutuhkan layanan tindak lanjut pelatihan dari hasil konsultasi terhadap semua aspek-aspek aktivitas usaha Sentra Industri Tenun Ikat, Metode yang digunakan dalam metode pelatihan adalah menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving) praktis sesuai hasil konsultasi yang perlu tindak lanjut pelatihan, adapun rancangan pelatihan yang diberikan diantaranya :penetapan volume penjualan, penetapan target penjualan, penetapan harga penjualan. Mekanisme pelaksanaan (Flowchat) dan proses produksi (Input-proses–output produksi) / desain produk dll, penetapan struktur organisasi dan pembagian tugas dan wewenang, deskripsi pekerjaan, penetapan besar – kecilnya gaji, menetapkan budgeting, kebutuhan modal kerja, laporan keuangan, aliran kas, dll, termasuk pelatihan akses pasar melalui media online IT(website).
C.     Pendampingan.  
Metode pendekatan pendampingan ditujukan agar mitra menerapkan hasil konsultasi dan pelatihan dimana tim melakukan evaluasi serta pendampingan dalam melaksanakan semua aspek aktivitas usaha sehingga mitra mampu menentukan dan memutuskan strategi atau penanganan permasalahan yang dihadapi, pada metode pendampingan ini tim juga melaksanakan pendampingan akses pasar atau pengembangan media promosi melalui media online IT (website), yang ditujukan untuk mempertahankan dan mengembangkan usaha Sentra Industri Tenun Ikat Troso.

2.    Rencana kegiatan
Dalam upaya mempertahankan dan mengengembangan usaha sentra industri Tenun Ikat Troso sebagai mitra. Maka perlu dipersiapkan langkah – langkah rencana kegiatan. Adapun langkah-langkah pentahapannya sebagai berikut:

2.1    Pembuatan Job desc Tim Pelaksana
Tim pelaksana menetapkan Job desc sebagai pedoman dan pembagian tugas masing-masing tim pelaksana
Tabel. 4
Tim Pelaksana Program IbM Sentra Industri Tenun Ikat Troso

No
Nama
Jabatan
Tugas
1.








Anna Widiastuti, SE. Msi








Ketua Pelaksana







Merencanakan, Mengkordinasikan kegiatan Program IbM di Sentra Industri Tenun Ikat dengan anggota tim dan Trainer, Pembimbing dan Pendamping mulai dari persiapan, pelaksanaan, evaluasi, penyusunan Laporan,   penyerahan laporan dan sampai penulisan Artikel pada jurnal nasional, dan bertanggung jawab kepada ketua LPPM STIENU Jepara

2.


Miftah Arifin, SH. MH
Akhmad Khirul Anam, SE
Anggota 1
Anggota 2

Mengkoordinasikan,mempersiapkan memfasilitasi, melaksanakan, kegiatan IbM mulai dari persiapan, pelaksanaan, evaluasi, sampai dengan penyusunan dan penyerahan laporan, penulisan artikel ilmiah, dan bertanggung jawab kepada Ketua pelaksana.

3.

Mahasiswa


Anggota

Mempersiapkan memfasilitasi, melaksanakan, kegiatan IbM mulai dari persiapan, pelaksana -an,  sampai dengan evaluasi kegiatan IbM, dan bertanggung jawab kepada Ketua pelaksana.


2.2    Tahap Persiapan Program IbM Di Sentra Industri Tenun Ikat
a.       Menyusun rencana operasional kegiatan
Dalam tahap ini tim, menyusun rencana mulai dari rencana rapat koordinasi tim, surat menyurat,mengidentifikasi kriteria,jumlah instruktur / pendamping, jadwal kegiatan, pelaksanaan program pelatihan dan pendampingan, pelaksanaan monitoring dan evaluasi, serta rencana penyusun laporan kegiatan dan penulisan artikel ilmiah pada jurnal nasional.

b.      Melaksanakan rapat koordinasi tim pelaksana
Dalam tahap ini tim melaksanakan rapat pembagian tugas tim, mengagendakan rapat koordinasi, yang ditujukan agar pelaksanaan kegiatan mulai dari persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, sampai pada pembuatan dan penyusunan laporan serta penulisan artikel dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

c.       Menyiapkan kelompok usaha Tenun Ikat Troso (mitra) dan Konsultan dan pendamping
a.    Menyiapkan kelompok usaha/koperasi Tenun Tradisional Gotong Royong (mitra);
Penetapan mitra dalam kegiatan IbM sebanyak 2 pengusaha (mitra) industri Tenun Ikat, dimana aspek-aspek dalam aktivitas usahanya ditentukan pada saat survey dan wawancara, adapun kriteria yang menjadi mitra kegiatan ini adalah sebagai berikut :
·         Pengusaha (usaha) industri Tenun Ikat Troso yang menetap di sentra industri Tenun Ikat di Jln Raya Pecangaan – Bugel Desa Troso Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara;
·         Masuk kriteria usaha kecil yang berpotensi untuk dikembangkan dari aspek-aspek aktivitas usahanya;
·         Sudah menjalankan usaha industri Tenun Ikat Troso minimal 3 (tiga) tahun
·         Belum atau kurang memiliki keterampilan dari aspek-aspek usahanya

b.    Penetapan Konsultan dan pendamping kegiatan
Tenaga konsultan dan pendamping  dalam kegiatan pengembagan usaha industri Tenun Ikat ini, melibatkan ahli dalam aspek-aspek aktivitas usaha, yaitu ahli pasar dan pemasaran, ahli produksi(operasi), ahli manajemen, organisasi ahli SDM, ahli keuangan (permodalan) dan akuntasi,  yang berasal dari lingkungan STIENU Jepara. Adapun kompetensi umum dan kompetensi inti konsultan dan pendamping sebagai berikut :
 Kompetensi Umum:
·         Konsultan /tenaga ahli yang berada di lingkungan STIENU Jepara;
·         Memiliki pengalaman dalam bidang konsultasi dan pendampingan aspek-aspek aktivitas usaha minimal 3(tiga) tahun;
·         Mengetahui dan memahami kriteria Usaha Kecil Menengah;
·         Memiliki komitmen dalam pengembangan UKM

Kompetensi Inti :
·         Mampu mengidentifikasi permasalahan, peluang dan tantangan UKM
·         Memiliki skill komunikasi
·         Menguasai metode konsultasi dan advokasi  
·         Mampu melakukan motivasi dan penguatan SDM
·         Mampu melakukan fasilitasi kemitraan

2.3    Tahap Pelaksanaan Kegiatan IbM Di Sentra Industri Tenun Ikat
Dalam tahap pelaksanaan kegiatan IbM di Sentra Industri Tenun Ikat dibagi menjadi beberapa sub kegiatan yaitu:
a.      Proses Pemberian layanan konsultasi Mitra
Dalam tahap ini dilakukan pelayanan konsultasi dengan pendekatan Input-Proses-Output dari semua aspek dalam aktivitas usaha industri Tenun Ikat melalui tahapan: Analisis, Diagnosis Prognosis, Treatmen, Evaluasi dan Tindak Lanjut.
Tahapan tersebut diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.    Analisis, adalah proses atau kegiatan menggali informasi dan data aspek-aspek manajemen usaha industri Tenun Ikat agar diperoleh gambaran kondisi saat sekarang. Disamping data dan informasi yang diperoleh melalui proses interview juga dokumentasi pendukung yang dimiliki.
2.    Diagnosis adalah gambaran menyeluruh mengenai usaha industri Tenun Ikat kekuatan maupun kelemahan, masalah dan sumber penyebabnya. Kekuatan dan kelemahan disimpulkan berdasarkan hasil analisis. Identifikasi kelemahan yang sedang dialami itulah yang disebut masalah. Selanjutnya mencari akar permasalahan atau sumber penyebab masalah atau dengan bahasa teknis disebut etiologi dari setiap masalah yang diidentifikasi tersebut.
3.    Prognosis, hampir sama dengan diagnosis bedanya, diagnosis menjelaskan kondisi saat ini/sekarang, sedangkan prognosis menjelaskan kondisi diagnosis diwaktu yang akan datang utamanya tentang masalah yang telah teridentifikasikan. Kedua, prognosis berkaitan dengan alternatif-alternatif pemecahan masalah agar kemungkinan munculnya masalah yang lebih berat tidak terjadi pada usaha industri Tenun Ikat.
4.    Treatmen, adalah pemberian perlakuan untuk memecahkan masalah, berdasarkan alternatif – alternatif pemecahan masalah tersebut yang mana sekiranya oleh usaha industri Tenun Ikat bisa segera dilaksanakan. Proses melaksanakan upaya penyelesaian masalah sesuai dengan alternatif pemecahan masalah yang dipilih tersebutlah yang dimaksud dengan treatmen.
5.    Evaluasi dan Tindak Lanjut, adalah proses membuat keputusan apakah suatu treatmen yang dilaksanakan berhasil atau tidak berdasarkan indikator yang ditetapkan. Tindak lanjut adalah pemberian layanan berdasarkan hasil evaluasi.

b.      Tahap Pelatihan.
Dalam pendekatan ini dilaksanakan di satu tempat yang repesentatif dimana pelaksanaanya setelah ditentukan masalah yang membutuhkan layanan tindak lanjut dari hasil konsultasi terhadap semua aspek aktivitas usaha industri Tenun Ikat, Metode yang digunakan dalam metode pelatihan adalah menggunakan metode praktis sesuai kebutuhan mitra, adapun pelatihan yang diberikan diantaranya : penetapan volume penjualan, penetapan target penjualan, penetapan harga penjualan. Mekanisme pelaksanaan (Flowchat) proses produksi, penetapan struktur organisasi dan pembagian tugas dan wewenang, deskripsi pekerjaan, penetapan besar – kecilnya gaji, menetapkan budgeting, kebutuhan modal kerja, laporan keuangan, aliran kas dan pelatihan pengembangan media promosi atau penggunaan IT (website/online).

c.       Tahap Pendampingan.
Dalam pendekatan tim melaksanakan bimbingan langsung dilapangan / tempat usaha mitra dan sekaligus melakukan evaluasi terhadap hasil dari pelatihan aspek-aspek dari aktivitas usaha industri Tenun Ikat, selain itu pada pendekatan pendampingan ini tim memfasilitasi  Pembuatan Web sebagai sarana promosi dalam usaha meningkatkan akses pasar produk industri Tenun Ikat.

d.      Tahap Fasilitasi Web ( Media Pemasaran )
Penentuan fasilitasi sarana pemasaran di putuskan dari awal kegiatan oleh Tim karena merupakan masalah prioritas bagi mitra yang sangat  dibutuhkan dalam mempertahankan dan mengembangkan usaha mitra industri Tenun Ikat Troso. Adapun Proses rencana pelaksanaan dan hubungan kegiatan konsultasi input-prose-output), pelatihan dan pendampingan, serta fasilitasi Media Pemasaran dapat dilihat pada gambar.

2.4    Pelaporan dan penulisan artikel Ilmiah
1.    Pembuatan laporan kegiatan program IbM sentra industri Tenun Ikat ini di dasarkan pada hasil pelaksanaan kegiatan, yang  mencakup kegiatan :
a.    Membuat laporan awal kegiatan
b.    Membuat laporan ahir kegiatan
·          Menyusun draft laporan akhir
·          Menyempurnakan laporan akhir
·          Menyerahkan laporan akhir
2.    Penulisan artikel ilmiah dan dipublikasikan melalui Jurnal Nasional


Gambar. 2
Proses  Kegiatan IbM Di Sentra Industri Tenun Ikat Troso (Mitra)

Right Arrow: Right Arrow: PROSES KONSULTASI
IN PUT
PROSES
OUT PUT

Dengan
Analisis, diagnosis dan prognosis

Aspek yang di analisis adalah:
a.      ASPEK PASAR DAN PEMASARAN,
b.      ASPEK PRODUKSI /OPERASI,
c.       ASPEK KEUANGAN,
d.      ASPEK MANAJEMEN DAN ORG,
e.       ASPEK SDM,
f.       ASPEK PERMODALAN

Pemberian Treatmen Melalui pemberian perlakuan untuk memecahkan masalah, berdasarkan alternatif – alternatif pemecahan masalah

Aspek yang di Tretmen adalah:
a.      ASPEK PASAR DAN PEMASARAN,
b.      ASPEK PRODUKSI /OPERASI,
c.       ASPEK KEUANGAN,
d.      ASPEK MANAJEMEN DAN ORG,
e.       ASPEK SDM,
f.       ASPEK PERMODALAN

Evaluasi dan Tindak Lanjut dari pemberian Treatmen

Yang dievalusi adalah :
a.      Aspek pasar dan pemasaran,
b.      aspek produksi /operasi,
c.        aspek keuangan,
d.      aspek manajemen dan org,
e.       aspek SDM,
f.       Right Arrow: aspek permodalan
OUT COME
PENDAMPINGAN
PELATIHAN
Bertahanya dan Berkembangnya
Usaha Mitra      Sentra Industri Tenun Ikat Troso







Evaluasi pelatihan dan pendampingan aspek-aspek aktivitas usaha

Pendampingan
Akses Pasar(Media promosi) : IT (Website/Online)

Tindak Lanjut Konsultasi

Mencakup Pelatihan :
a.       Aspek pasar dan pemasaran,
b.      aspek produksi /operasi,
c.        aspek keuangan,
d.      aspek manajemen dan org,
e.       aspek SDM,
f.       aspek permodalan
g.      Pelatihan  Dan Fasilitasi              Sarana  IT (media Pemasaran)

3.    Jadwal Kegiatan Program Iptek bagi Masyarakat ( IbM )
Penyusunan Jadwal kegiatan ini direncanakan selama 8 (Delapan) bulan dengan pertimbangan Tahapan sebagai berikut :
a.       Tahap persiapan, meliputi : Perekrutan IbM dengan Mitra, Konsultan, Pendamping dan Intruktur, penyiapan modul dan persiapan sarana prasarana.
b.      Tahap pelaksanaan program meliputi pelaksanaa : konsultasi, pelatihan,  pendampingan evaluasi dan Media Online.  
c.       Tahap pelaporan meliputi kegiatan: evaluasi kegiatan dan penyusunan laporan, penyerahan laporan dan penulisan artikel ilmiah di jurnal nasional.

Untuk lebih jelasnya jadwal kegiatan pelaksanaan program IbM pada Sentra Industri Tenun Ikat Troso sebagai berikut :
Tabel 5.
Jadwal Kegiatan  Program IbM Di Sentra Industri Tenun Ikat Troso

NO
RINCIAN KEGIATAN
BULAN
1
2
3
4
5
6
7
8
I
TAHAP PERSIAPAN








1
Menyusun rencana operasional kegiatan








2
Melaksanakan rapat koordinasi tim pelaksana







3
Menyiapkan kelompok usaha Tenun Ikat Troso (mitra)







4
 Penetapan Konsultan dan pendamping kegiatan







5
Penyiapan modul dan persiapan sarana prasarana







II
TAHAP PELAKSANAAN








1
Konsultasi






2
 Pelatihan dan Fasilitasi E-Commers





3
Pendampingan






III
TAHAP PELAPORAN








1
Evaluasi Kegiatan & Penyusunan Laporan








2
Penyerahan Laporan Ahir







3
Penulisan Artkel Ilmiah Akhir










4.    Partisipasi Mitra Sentra Industri Tenun Ikat Dalam Pelaksanaan  Program

Untuk mencapai solusi atau pemecahan program Iptek bagi sentra industri Tenun Ikat Troso, tidak terlepas dari lembaga pelaksana program, proses pelaksanaan program dan mitra itu sendiri. Dalam persiapan pelaksanaan program, mitra berperan serta dalam menentukan waktu kegiatan baik dalam kegiatan konsultasi, pelatihan maupun pendampingan usaha, hal ini dilakukan agar kegiatan program ini dapat berjalan secara efektif tanpa mengganggu aktivitas usahanya.

D.      Target Luaran

Target luaran dari kegiatan Ipteks bagi Masyarakat (IbM) dalam hal ini adalah bertahanya dan berkembangnya usaha sentra industri Tenun Ikat Troso. Adapun bentuk kegiatan melalui jasa konsultasi, pelatihan dan pendampingan aspek - aspek aktivitas usaha sentra industri Tenun Ikat, fasilitasi media Pemasaran online (Website), yang ditujukan dapat memberikan dampak dalam mempertahankan dan pengembangan usaha sentra industri Tenun Ikat Troso.  
1.    Target Konsultasi, Pelatihan Dan Pendampingan Tim menetapkan sebagai berikut :
a.    Dari aspek pasar dan pemasaran ditetapkan target bagi mitra sebagai berikut :
·         Mampu menetapkan target penjualan
·         Mampu menetapkan  harga jual
·         Mampu menetapkan strategi pemasaran
·         Mampu menentukan posisi produk
·         Mampu menetapkan jenis promosi yang tepat
·         Mengetahui jumlah permintaan, jenis pesaingan.
·         Mampu menetapka target pasar dan pangsa pasar
b.    Dari aspek produksi / operasi ditetapkan target bagi mitra sebagai berikut :
·         Mampu melaksanakan mekanisme dan mengendalikan pengadaan bahan baku/penolong/pembantu dan peralatan
·         Mampu menetapkan model, mendesain produk
·         Mampu melaksanakan dan mengendalikan kegiatan produksi sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang telah ditetapkan
·         Mampu menggunakan dan mengendalikan teknologi dan peralatan yang ada 
·         Mampu melaksanakan penanganan limbah
c.    Dari aspek keuangan ditetapkan target bagi mitra sebagai berikut :
·         Memiliki bukti-bukti transaksi
·         Mampu membuat dan Memiliki buku besar
·         Mampu membuat dan memiliki laporan laba rugi
·         Mampu membuat dan memiliki laporan neraca
·         Mampu membuat aliran kas
·         Mampu memahami dan menggunakan analisis keuangan
d.   Dari aspek manajemen dan organisasi ditetapkan target bagi mitra sebagai  berikut :
·         Mampu menetapkan dan menerapkan struktur organisasi
·         Mampu melakukan pembagian tugas dan wewnang
·         Mampu membuat perencanaan usaha
·         Memahami legalitas/perijinan usaha
·         Memahami pelaturan dan gaji
e.    Dari aspek sumber daya manusia ditetapkan target bagi mitra sebagai berikut :
·         Mampu menetapkan kebutuhan criteria, jumlah tenaga kerja
·         Mampu mengdeskrisikan/spesifikasi pekerjaan
·         Mampu memotivasi pegawai
·         Mampu meningkatkan jiwa kewirausahaan
·         Mampu menetapkan besarnya gaji
f.     Dari aspek permodalan ditetapkan target bagi mitra sebagai berikut :
·         Mengetahui dan memahami sumber – sumber permodalan
·         Mampu membuat perencanaan penggunaan modal
·         Mampu menggunakan modal investasi dan modal kerja
·         Mampu memupuk permodalan
2.    Target Fasilitasi Media Pemasaran Online
Target yang ditetapkan fasilitasinya  media online(Website), sebagai berikut :
·         Usaha Mitra akan dikenal tanpa batas wilayah.
·         Mitra dapat memanfaatkan media ini untuk: memperkenalkan, menawarkan, menjual barang atau jasa lainya,.
·         Usaha Mitra akan tampil lebih meyakinkan dan profesional(menambah image atau kesan baik).
·         Mitra dapat mempelajari tingkah laku pelanggan / calon pelanggan
·         Memberi kemudahan dalam memelihara hubungan dengan klien/konsumen ataupun dengan partner bisnis
·         Mitra dapat memanfaatkanya sebagai Showroom murah


Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi berdiri tahun 1997 dan sampai dengan sekarang telah beroperasi selama 15 tahun. Sejak mulai berdiri yang menaungi kegiatan Pengabdian kepada masyarakat adalah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM). Pembentukan LPPM STIENU Jepara tidak bisa lepas dari Tri Dharma Perguruan tinggi yang salah satunya adalah pengabdian. Bentuk kegiatan pengabdian Kepada Masyarakat yang terdapat di LPPM STIENU Jepara  memiliki 5 bentuk program :
-   Pelatihan kepada sivitas akademika berkaitan dengan Penelitian dan Pengabdian
-   Publikasi Hasil penelitian melalui Jurnal
-   Fasilitasi Penelitian dan Pengabdian dosen
Sejak berdirinya LPPM STIENU JEPARA, secara bertahap tumbuh kembang jaringan kerja di berbagai bidang dan berbagai pihak. Jaringan kerjasama yang terbangun dengan berbagai pihak diantaranya dengan instansi pemerintah, swasta, BUMN dan masyarakat luas lainnya. LPPM STIENU Jepara memiliki Unit –Unit garapan antara lain : Unit Kerjasama dan Kemitraan, Unit Bisnis dan Unit Kewirausahaan.
Pengalaman LPPM STIENU JEPARA dalam pelaksanaan proyek / Program pengembangan masyarakat dan UKM diantaranya  adalah sebagai berikut :
-   Pendidikan, pelatihan dan pengajaran kepada masyarakat
-   Pelayanan kepada masyarakat
-   Kuliah kerja nyata
-   Pembinaan dan pengembangan daerah
-   Penerapan hasil penelitian
Dalam perkembangannya LPPM STIENU JEPARA telah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak diluar lingkungan STIENU Jepara (eksternal)  terutama dengan Pemerintah Kabupaten Jepara terutama di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Jepara, dan Perguruan Tinggi di lingkungan Jawa Tengah serta pihak swasta yang ada dilingkungan Kabupaten Jepara. Secara internal LPPM STIENU Jepara juga bekerjasama dengan bagian yang ada dilingkungan STIENU Jepara antara lain Unit Kerjasama dan Kemitraan, Unit Bisnis dan Unit Kewirausahaan.
Pengalaman LPPM STIENU JEPARA dalam pelaksanaan proyek / Program pengembangan masyarakat dan UKM diantaranya  adalah sebagai berikut :
Tabel. 6
Pengalaman LPPM STIENU Jepara

NO
KEGIATAN
TAHUN PELAKSANAAN
KERJASAMA
1
Pembuatan Study Kelayakan Ekonomi Kampung Tekhnologi Kabupaten Jepara
Th 2008
Bappeda Kab. Jepara
2
Implementasi Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Jepara
Th 2009
Bappeda Kab. Jepara
3
Inventarisasi Produk UMKM di kabupaten Jepara
Th 2009
Dinas Pengelolaan Pasar, UMKM dan Koperasi
4
Sebagai Tim Tutor kegiatan Pelatihan Manajemen Usaha Kecil bagi UMKM
Th 2008 - sekarang
Dinas Pengelolaan Pasar, UMKM dan Koperasi
5
KKN Vokasi di desa Damarwulan kecamatan Keling Kabupaten Jepara
2012
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah
5
Dan lain - lain








Kualifikasi /Kompetensi Tim

Ketua  Tim  :
Nama                
Institusi            
Kompetensi    
Aktivitas Lain

:
:
:
:

Miftah Arifin, SH. MH
STIENU Jepara
Hukum Bisnis
Trainer, Dosen Pendamping Progam Mahasiswa Wirausaha, Pembimbing dan Pendamping Program Kreatifitas Mahasiswa, Fasilitator  Program Pemberdayaan UMKM Kabupaten Jepara.
Anggota  : 1
Nama              
Institusi            
Kompetensi    
Aktivitas Lain

:
:
:
:

Anna Widiastuti. SE.MSi
STIENU Jepara
Manajemen Keuangan
Trainer, pendamping koperasi, kepala UPT perbankkan
Anggota : 2
Nama              
Institusi            
Kompetensi    
Aktivitas Lain

:
:
:
:

Hadi Ismanto, SE. MM
STIENU Jepara
Manajemen Keuangan
Trainer, pendamping UMKM



Konsultan/Pendamping Tambahan :

Nama                
Institusi            
Kompetensi    
Aktivitas Lain
:
:
:
:
Samsul Arifin, SE.MM
STIENU Jepara
Manajemen Pemasaran
Trainer,  Pelaku bisnis jasa, pendamping UMKM di Jepara
Nama                
Institusi            
Kompetensi    
Aktivitas Lain
:
:
:
:
Suyatno, ST. MKom
STIENU Jepara
Ilmu Komputer dan IT
Trainer,  Konsultan WEB


Nama                
Institusi            
Kompetensi    
Aktivitas Lain
:
:
:
:
Aida Nahar, SE. MSi
STIENU Jepara
Ilmu Akuntansi
Trainer, Konsultan dibidang Akuntansi, Pendamping UMKM.







F.       Biaya  Kegiatan  IbM Sentra Industri Tenun Ikat Troso

Tabel 6
Biaya Kegiatan IbM Di Sentra Industri Tenun Ikat Troso

NO
PEKERJAAN/ KEGIATAN
QTY
Sat
 Vol
Sat
 Harga Satuan
 Jumlah
1
 Honorarium :






a.   Ketua   
1
Org
8
Bln
 Rp     175,000
 Rp     1,400,000
b.   Anggota
2
Org
8
Bln
 Rp     150,000
 Rp     2,400,000
c.   Staff (Mahasiswa)
2
Org
8
Bln
 Rp     125,000
 Rp     2,000,000
d.   Konsultasi 
5
Org


 Rp     500,000
 Rp     2,500,000
e.   Pendamping
5
Org


 Rp     500,000
 Rp     2,500,000
f.    Instruktur 
2
Org


 Rp     750,000
 Rp     1,500,000
    Sub Total 1
 Rp 12,300,000
2
Biaya Bahan Habis Pakai





a. ATK Kesekretariat
1
Pkt


 Rp     500,000
 Rp        500,000
b.Surat Menyurat/Komunikasi
1
Pkt


 Rp     500,000
 Rp        500,000
c. Penyusunan Modul
6
Bh


 Rp     150,000
 Rp        900,000
d. Pengandaan Modul
6
Bh


 Rp      50,000
 Rp        300,000

Sub Total 2
 Rp   2,200,000
3
Biaya Fasilitasi  :






a. Domain, Hosting
 15
Pkt


 Rp     400,000
 Rp     6,000,000
b. Modem + Kartu
15
Pkt


 Rp     350,000
 Rp     5,250,000
c. Lap Top
 1
Bh


 Rp  5,000,000
 Rp     5,000,000

Sub Total 3
 Rp 16,250,000
4
Biaya Perjalanan (Transport) :






a.  Survei lapangan Calon Mitra
1
Pkt


 Rp     500,000
 Rp        500,000
b.  Rental Kendaraan 
1
Pkt


 Rp  1,000,000
 Rp     1,000,000
c.  BBM selama kegiatan
1
Pkt


 Rp     750,000
 Rp        750,000
d.  Konsultasi
5
Org
      3
Mgg
 Rp     200,000
 Rp     3,000,000
e.  Pendamping
5
Org
      3
Mgg
 Rp     200,000
 Rp     3,000,000
f.   Instruktur 
2
Org
      3
hari
 Rp     200,000
 Rp     1,200,000

Sub Total 4
 Rp   9,450,000
5
Biaya Lain - lain  :






a.  Komsumsi selama kegiatan
1
Pkt


 Rp  1,500,000
 Rp     1,500,000
b.  Dokumentasi
1
Pkt


 Rp  1,000,000
 Rp     1,000,000
c.  Penyusunan Laporan
1
Pkt


 Rp  1,000,000
 Rp     1,000,000
d.  Pengandaan Laporan
10
Bh


 Rp      60,000
 Rp        600,000
e.  Penulisan Artikel Ilmiah
1
Pkt


 Rp  1,000,000
 Rp     1,000,000

Sub Total 5   
 Rp   5,100,000

Jumlah Sub : 1 + 2 + 3 + 4 + 5
 Rp 45,300,000
6
Pajak PPn 10%
 Rp   4,530,000
7
Jumlah Total ( 1 +2 + 3 + 4 + 5 + PPn)
 Rp 49,830,000


Terbilang : ”Empat Puluh Sembilan Juta Delapan Ratus Tiga Puluh Ribu Rupiah”