Header Ads


Kritik Terhadap Fenomenologi Agama

Kritik Terhadap Fenomenologi Agama


1. Kritik Gavin Flood tentang Keberlangsungan Fenomenologi Sebagai
Sebuah Tradisi Filosofis

Yang pertama adalah kritik yang dilakukan Gavin Flood tentang
keberlangsungan fenomenologi sebagai tradisi filosofis yang menjadi dasar
pengembangan riset agama. Menurut Flood,13 metode yang diperkenalkan
para fenomenolog, yang mencoba membatasi pengaruh bias-bias yang
mungkin merusak, yang digambarkan oleh Kristensen dan Parrinder
sebagai aplikasi teori-teori evolusioner kepada agama dan budaya, serta
oleh Eliade dan Smart sebagai kecenderungan-kecenderungan
reduksionistis dalam ilmu-ilmu sosial, didasari pada teori filosofis yang
memasukkan bias yang lebih dalam, namun lebih sederhana, ke dalam
cara suatu pengetahuan diperoleh dan diatur. Dengan mengasumsikan
pengalaman universal manusia pada jantung semua agama yang dipahami
secara kognitif (intuisi) oleh “subjek yang terpisah”, para fenomenolog
mengabaikan, atau setidaknya memperkecil, pentingnya konteks-konteks
kultural, historis dan sosial. Di samping itu, “keistimewaan epistemik”
yang diberikan kepada periset tetap tersembunyi, karena ia
menyembunyikan relasi kekuasaan antara periset dengan komunitas yang
diteliti. Dengan melakukan pengurungan fenomenologis untuk
menghilangkan semua tipe prasangka, ilmuan agama secara paradoksal
tetap mengkontrol pengetahuan dan dengan demikian membuat aturanaturan
untuk menafsirkan fenomena keagamaan. Ini membuat
fenomenologi, setidaknya, rentan terhadap tuduhan bahwa ia sebenarnya
menyebarkan satu metode untuk mempertahankan kekuasaan terhadap
objek kajian akademis, meskipun ada kesepakatan maya di kalangan
fenomenolog bahwa pengalaman keagamaan personal mereka memberikan
akses istimewa ke dalam pikiran seorang praktisi keagamaan.