Header Ads


Kritik Donald Wiebe terhadap Motif Teologis van der Leeuw, Elliade dan Smart.

Kritik Donald Wiebe terhadap Motif Teologis van der Leeuw, Elliade dan Smart.

Wiebe menuduh ketiga tokoh ini telah melakukan teologisasi
terhadap kajian akademis tentang agama-agama. Van der Leeuw,
misalnya, bersikukuh bahwa setiap ilmuan mesti berangkat dari sebuah
orientasi kultural terhadap kehidupan, yang sangat serupa dengan posisi
keyakinan pribadi, dan menegaskan bahwa karena ilmuan disituasikan
dalam sebuah konteks khusus, maka aktivitas ilmiahnya tidak dapat
dipisahkan dari “pencarian religio-kultural” ilmuan itu sendiri. Menurut
Wiebe, van der Leeuw dalam hal ini bersifat kekanak-kanakan dan
menyesatkan, karena pandangan tersebut mencegah bias-bias peneliti
dari keadaan dikenali dan diklarifikasi secara kritis-ilmiah. Argumen
ini menghancurkan tujuan akademis yang didukungnya tepatnya karena
ia “mengabaikan perbedaan-perbedaan kritis antara agama dan kajian
ilmiah-akademis tentang agama”. Ini berarti bahwa van der Leuuw, yang
mencoba memindahkan tradisi Belanda yang telah dimulai oleh
Chantepie de la Saussaye dan C. P. Tiele melampaui teologi, sebenarnya
malah melakukan kebalikannya dengan mengarahkannya kembali kepada
teologi. Kata Wiebe, “Dengan van der Leeuw … kajian agama tidak
hanya tidak bergerak melampaui tahapan yang telah dicapai disiplin
keilmuan itu di Belanda, namun lebih tepatnya kembali kepada
pendekatan teologis awal—sebuah pendekatan yang sama saja dengan
subversi terhadap kajian ilmiah agama.”14

Singkatnya, kritik terhadap fenomenologi agamanya van der Leeuw,
seperti dijelaskan Allen,15 didasari pada asumsi bahwa pendekatan
fenomenologisnya didasari pada sejumlah penilaian dan asumsi teologis
dan metafisis; seringkali bersifat subjektif dan begitu spekulatif;
mengabaikan konteks kultural dan historis dari fenomena agama dan
kurang bernilai bagi riset yang berbasis empiris.